Tugas Akhir Modul 1 Bahasa Indonesia PPG

Tugas Akhir Modul 1 Bahasa Indonesia PPG - Sobat PPG yang berbahagia, untuk postingan perdana kali ini, penulis akan memberikan jawaban Tugas Akhir Modul 1 Bahasa Indonesia PPG 2019 yang telah penulis selesaikan ketika mengikuti daring pendidikan profesi guru (PPG) tahun 2019 pada mata pelajaran Bahasa Indonesia tentunya. Tugas Akhir Modul 1 Bahasa Indonesia PPG ini oleh dosen penguji/pembimbing diberikan nilai 90. Nilai yang jelas berada diatas nilai KKM kelulusan pada proses daring PPG 2019. Dimana untuk lulus dalam proses daring PPG kita hanya membutuhkan nilai 70 saja.

Tugas Akhir Modul 1 Bahasa Indonesia PPG

Tugas Akhir Modul 1 Bahasa Indonesia PPG ini dapat sobat jadikan sebagai bahan referensi ketika sedang mengerjakan tugas akhir pada modul 1 : Aliran Linguistik. Jawaban tugas akhir yang saya berikan bukanlah menjadi jawaban yang mutlak benar. Karena terkadang berbeda dosen penguji/pembimbing sudahlah pasti akan berbeda penilaiannya. Tetapi Tugas Akhir Modul 1 Bahasa Indonesia PPG dapat sobat jadikan sebagai masukan dan tambahan referensi saja. Karena disini penulis hanya sekedar mengshare apa yang telah penulis alami ketika mengikuti PPG Daljab Tahap 1 tahun 2019 dulu.

Materi Daring PPG Modul 1 Profesional Bahasa Indonesia

Tugas akhir modul 1 profesional bahasa indonesia ini merupakan tugas pertama pada daring profesional bahasa indonesia selain tugas-tugas forum diskusi (fordis). Di dalam modul 1 profesional ppg bahasa indonesia terdapat 4 (empat) buah kegiatan belajar, yaitu :
Kegiatan Belajar 1 : Perkembangan Penelitian Linguistik.
Kegiatan Belajar 2 : Aliran Struktural
Kegiatan Belajar 3 : Aliran Tagmemik dan Generatif Transformasional
Kegiatan Belajar 4 : Aliran Fungsional.

Jawaban Tugas Akhir Modul 1 Bahasa Indonesia : Aliran Linguistik

Berikut adalah tugas akhir modul 1 aliran linguistik yang akan saya bagikan kepada sobat mahasiswa ppg daljab untuk sebagai referensi. (Ingat jangan hanya mengcopi pastekan saja, tetapi pahami juga apa isi dari permasalahannya).

Tugas Akhir Modul 1 Bidang Profesional

Setelah mempelajari materi yang terdapat pada kegiatan 1 s.d.4, jawablah pertanyaan berikut.
Jelaskan bidang kajian linguistik yang penting pada masa Yunani dan Romawi!
Buatlah kalimat kompleks dan analisislah berdasarkan aliran struktural!
Buatlah kalimat kompleks dan analisislah berdasarkan aliran tagmemik!
Jelaskan analisis fungsional antarkata dalam frasa dan antarklausa dalam kalimat melalui contoh dalam bahasa Indonesia!

Jawaban nomor 1 :
Kajian Linguistik pada Masa Yunani
Yunani adalah pakar tentang bahasa dan tentang berbagai penelitian di bidang lingusitik. Kajian yang mereka lakukan mengawali penelitian-penelitian linguistik di benua Eropa dan merupakan penelitian linguistik yang paling luas.
Sejarah kajian linguistik dimulai oleh bangsa Yunani kuno. Kajian yang mereka lakukan mengawali penelitian-penelitian linguistik di benua Eropa dan merupakan penelitian linguistik yang paling luas yaitu berupa:
  • Ciptaan tulisan dan huruf bergambar diciptakan orang di Mesir, juga di Cina, dan Amerika Tengah.
  • Tulisan silabik yang yang kemudian menjadi sumber abjad Yunani di ciptakan dengan meniru tulisan Mesir. 
  • Contoh naskah Gramatika kuno dari Babilonia (1600 SM) ditulis pada tablet dalam bentuk kata ganti, kata kerja, serta kata lainnya dari bahasa Sumeria. 
  • Pada zaman Yunani kuno lahir catatan pertama linguistik teoretik Eropa
Faktor paling penting yang mempengaruhi minat terhadap pengkajian ilmu linguistik dari bangsa Yunani adalah kesadaran adanya kontak bahasa yang terjadi anatara bangsa Yunani dengan bangsa-bangsa lain, serta pembagian dialek diantara penduduk yang berbahasa Yunani. Tiga segi utama kajian linguistik menurut pakar Yunani Kuno adalah
  • Tiga segi kajian linguistik yang memperoleh perhatian khusus di kalangan pakar-pakar Yunani kuno adalah etimologi, fonetik (lafal) dan tata bahasa
  • Etimologi merupakan bidang penelitian untuk mengenal asal usul dan perkembangan bahasa
  • Fonetik dan fonologi bahasa Yunani pada periode ini dikaji melalui gabungan bentuk tulisan serta unsur dasar dari bahasa lisan.
Berdasarkan bidang kajian tata bahasa Yunani dapat digambarkan dalam perkembangan penelitian linguistik tata bahasa Yunani berikut:
1)    Plato (429-347 SM)
Plato secara tegas membedakan kata benda dan kata kerja. Menurut Plato ‘kata benda’ atau ‘nomina’ adalah kata yang dapat berfungsi dalam kalimat sebagai subyek sesuatu predikat. Kata kerja atau verba adalah kata yang dapat menyatakan perbuatan atau kualitas yang disebut dalam predikat. Hal pertama mengenai gramatikal yang dikemukakan oleh Plato adalah “nomina” dan “verba” disusun berdasarkan alasan logis yaitu sebagai konstituen suatu proposisi. Hal kedua adalah bahwa yang disebut verba dan kata sifat atau adjektiva disatukan dalam kelas kata yang sama.
2)    Aliran Alexandria
Kaum Alexandria membuat buku tata bahasa yang bernama Dionysius Thrax yang yang lahir lebih kurang tahun 100 SM. Tatabahasa menurut aliran Alexandria adalah sebuah pengetahuan praktis tentang pemakaian bahasa umum oleh penulis puisi dan prosa. Tatabahasa memiliki enam bagian yaitu bacaan (bersuara) atau pelafalan, penjelasan mengenai ungkapan sastra dalam karya, pemberian keterangan, upaya menemukan etimologi, upaya mencari keteraturan analogis, dan apresiasi komposisi sastra.
3)    Aristoteles (384 - 322 SM)
Pada abad pertengahan dibuat pembagian kata oleh Aristoteles. Aristoteles membagi 3 macam kelas kata yaitu onoma, rhema dan syndesmoi. Syndesmoi adalah kata-kata yang lebih banyak bertugas dalam hubungan sintaksis. Syndesmoi hampir sama dengan preposisi dan konjungsi. Aristoteles membedakan jenis kelamin kata menjadi 3 yaitu maskulin, feminin dan neutron.
Penerapan metode klasifikasi Aristoteles dalam ilmu linguistik yaitu
  • Nomina: jenis kata yang mengalami infleksi untuk kasus, yang mewujudkan konkret atau abstrak
  • Verba : jenis kata tanpa infleksi kasus, tetapi berinfleksi untuk kala, orang dan jumlah, yang menunjukan suatu kegiatan atau proses yang dilakukan.
  • Partisipal : jenis kata yang memiliki ciri-ciri verba dan nomina
  • Artikel : jenis kata yang mengalami infleksi pada suatu kasus dan dapat diganti untuk nomina
  • Pronomina : jenis kata yang dapat mengganti nomina da menandai orang
  • Preposisi : jenis kata yang ditempatkan sebelum kata-kata lain dalam karangan dan dalam sintaksis
  • Adverbia : jenis kata tanpa infleksi dalam perubahan dari atau penambahan kepada sebuah verba
  • Konjungsi : jenis kata yang mengikat wacana dan mengisi celah-celah dalam penafsirannya.
4)    Kaum Sophis
Kaum Sophis melakukan kerja secara empiris dan secara pasti dengan menggunakan ukuran tertentu. Mereka membedakan tipe-tipe kalimat berdasarkan isi dan makna
5)    Kaum stolk
Dibawah pengaruh aliran Stoik, linguistik mencapai suatu tempat dengan batasan yang jelas di dalam tautan filsafat secara keseluruhan, dan masalah-masalah linguistik secara nyata dibahas dala karya-karya terpisah yang diperuntukan bagi segi-segi bahasa dan dibahas secara bersistem. Kedudukan bahasa dalam sistem Stoik diringkas dalam tiga kutipan: ‘Pertama muncul kesan, kemudian pikirkan, dengan menggunakan tutur, mengungkapkan dalam kata-kata pengalaman yang dihasilkan oleh kesan itu. Kelompok Stoik menganggap bahasa sebagai kemampuan manusia secara alami untuk diterima sebagaimana adanya, dengan ketarturan yang khas. Mereka mengambil dari sebuah pandangan yang luas mengenai apa bahasa Yunani baik itu dan mereka tertarik dengan pertanyaan linguistik tidak terutama sebagai kritikus gramatikal dan tekstual. Mereka adalah filsuf-filsuf yang menganggap bahasa sebagai pernyataan pikiran dan perasaan

Kajian Linguistik Zaman Romawi
Studi bahasa pada zaman romawi dapat dianggap kelanjutan dari zaman yunani, sejarah jatuhnya Yunani, dan munculnya zaman Romawi:
Varro dan “de lingua latina”
Dalam bukunya “De Lingua Latina”, Varro masih memperdebatkan masalah analogi dan anomali buku ini dibagi dalam bidang-bidang etimologi, morfologi dan sintaksis.
a.    Etimologi, adalah cabang lingustik yang meyelidiki asal usul kata beserta artinya, dan  perubhan bunyi misalnya, kata duellum menjadi belum yang artinya perang. perubahan makna misalnya kata hostis yang semula berarti orang asing kemudian menjadi musuh.
b.    Morfologi, adalah cabang lingustik yang mempelajari kata dan pembentukannya menurut Varro kata adalah bagian dari ucapan tidak dapat dibedakan lagi, yang nerupakan bentuk minimum. Varro membagi tiga kelas kata latin dalam empat bagian, yaitu :
  • Kata benda, termasuk kata sifat yakni kata yang berinfleksi kasus.
  • Kata kerja, kata yang membuat peryatan yang berinfleksi tense.
  • Partisipel, kata yang menghubungkan (dalam sintaksis kata benda dan kata kerja ) berinfleksi kasus dan tense.
  • Adverbium, kata yang mendukung (anggota bawah dari kata kerja) tidak berinfleksi.
Tentang kasus dalam bahasa latin menurut Varro ada enam, yaitu: (1)nominativus, yaitu bentuk primer atau pokok; (2) genetivus, yaitu bentuk yang menyatakan kepunyaan; (3) dativus, yaitu bentuk yang menyatakan menerima; (4)akusativus, yaitu bentuk yang menyatakan objek; (5) vokatikus, yaitu bntuk sebagai sapaan atau panggilan; dan (6) ablativus, yaitu bentuk yang menyatakan asal.
Institutiones Grammaticae (tata bahasa Priscia)
Buku Priscia ini merupakan buku tata bahasa latin yang paling lengkap dan merupakan tonggak pembicaraan bahasa tradisional. Buku ini berisikan tentang:
a.    Fonologi : membicarakan istilah Litterae (yaitu bagian terkecil bunyi yang dapa diartikan)
b.    Morfologi: membicarakan istilah Dictio (yaitu bagian minimum ujaran yang harus diartikan terpisah dalam makna sebagai satu keseluruhan).
c.    Sintaksis: membicarakan istilah Oratio (yaitu tata susun kata berselaras yang menunjukkan kalimat itu selesai).

Jawaban nomor 2 :
Jawaban Nomor 3 :
Jawaban Nomor 4 :
Hubungan fungsional antarunsur dalam frase akan dijelaskan berdasarkan jenis frase. Penjelasan juga ditambahkan dengan makna gramatikal yang terjadi akibat hubungan tersebut. Berikut penjelasan hubungan fungsional dalam frase dengan makna gramatikalnya.
  • Hubungan Fungsional Antarunsur dalam Frase Endosentris dan Makna  Gramatikalnya, Contoh: 1. Pedagang besar kendalikan pasar.  2. Keberadaab pangkalan angkot belum mampu mengurai kemacetanFrase pedagang besar pada contoh (1)  terdiri atas dua unsur yaitu unsur inti dan  unsur pewatas. Yang menjadi unsur inti pada frase ini adalah kata pedagang, sedangkan yang menjadi unsur pewatasnya adalah kata besar. Makna gramatikal yang terjadi akibat hubungan ini adalah keadaan. Frase belum mampu pada contoh (2) terdiri atas dua unsur yaitu unsur inti  dan unsur pewatas yang terletak di depan unsur inti. Yang menjadi unsur inti dalam frase ini adalah kata mampu, namun yang menjadi unsur pewatasnya adalah kata belum. Adapun makna gramatikal dari konstruksi ini adalah makna keselesaian. Frase jutaan generasi bangsa pada contoh (3) terdiri atas dua unsur yaitu unsur inti dan unsur pewatas. Yang menjadi unsur inti adalah kata generasi , sedangkan unsur pewatasnya adalah kata bangsa  dan jutaan. Makna gramatikal dalam konstruksi ini adalah milik dan jumlah.
  • Hubungan Fungsional Antarunsur dalam Frase Eksosentris dan Makna  GramatikalnyaContoh: 4. Pemerintah akan memperluas jaringan pipa gas ke permukiman. 5. Program imuniasi di Tanah Air masih belum merata. 6. Pemerintah kota Padang mengandeng pihak ketiga untuk berinvestasi. Frase ke permukiman pada contoh (4) terdiri atas perangkai dan sumbu. Yang  nenjadi unsur perangkai dalam frase ini adalah kata ke , sedangkan unsur sumbu adalah kata permukiman. Makna dalam konstruksi frase ini adalah makna arah. Frase di Tanah Air pada contoh (5) terdiri atas unsur perangkai yaitu kata di dan sumbu yaitu kata Tanah Air. Adapun makna gramatikalnya adalah tempat. Frase untuk berinvestasi pada contoh (6) terdiri atas dua unsur yaitu unsur perangkai dan sumbu.
Hubungan Fungsional Antarunsur dalam rase Nominal dan Makna  Gramatikalnya
FN: N + N/FN  Cobtoh: 7. Permasalahan ras  inti  pewatas 8. bakat mereka  inti      pewatas 9. kelompok negara Islam  inti            pewatas Frase permasakahan ras pada contoh (7), bakat mereka pada contoh (8), dan kelompok negara Islam (9) merupakan frase nominal berkonstruksi nomina sebagai unsur inti dan nomina atau frase nomina sebagai pewatasnya. Unsur inti pada contoh (7) adalah kata permasakahan, pada contoh (8) adalah kata bakat, dan pada contoh (9) adalah kata kelompok. Adapun unsur pewatasnya terletak di belakang unsur inti. Yang menjadi pewatas pada contoh (7) adalah kata ras, pada contoh (8) adalah kata mereka, dan pada contoh (9) adalah frase negara islam. Selanjutnya, makna gramatikal yang dihasilkan oleh hubungan tersebut yaitu pada contoh (7) adalah makna jenis, pada (8) adalah makna milik, dan pada contoh (9) adalah makna jenis.
b)    FN: N + Adj/Fadj    Contoh: 10. pelajaran khusus  inti            pewatas 11. aktor senior  inti     pewatas 12. gadis sangat cantik  inti      pewatas

Hubungan fungsional antarunsur pada frase pelajaran khusus pada contoh (10) adalah kata pelajaran berfungsi sebagai unsur inti, sedangkan kata khusus berfungsi sebagai pewatas. Makna gramatikalnya adalah makna derajat. Hubungan fungsional antarunsur padafrase aktor senior pada contoh (11) adalah kata aktor berfungai sebagai unsur inti dan kata senior berfungsi sebagai pewatas. Makna gramatikalnya adalah makna derajat. Hubungan fungsional antarunsur pada frase gadis sangat cantik pada contoh (12) adalah kata gadis berfungsi sebagai inti dan frase sangat cantik berfngsi sebagai pewatas. Makna gramatikal pada konstrusi ini adalah makna keadaan. Unsur pewatasnya terletak di belakang unsur inti yang disebut pewatas belakang.
  • FN: N + V Contoh: 13. ayam bakar  inti     pewatas 14. gedung parkir  inti        pewatas 15. zat berbahaya  inti   pewatas Hubungan fungsional antarunsur dalam frase nominal pada contoh (13), (14), dan (15) adalah unsur inti dan pewatas yang terletak di belakang unsur inti. Yang menjadi unsur inti pada frase tersebut adalah kata ayam pada contoh (13), kata gedung pada contoh (14), dan kata zat pada contoh (15) yang berkategori nomina. Adapun yang menjadi unsur pewatas adalah kata bakar, parkir, dan berbahaya  yang berkategori verba. Makna gramatikal pada konstruksi contoh (13) adalah makna proses, pada contoh (14) adalah makna tempat, dan pada contoh (15) adalah makna keadaan.
  • FN: N + Numeralia  Contoh: 16. anak kedua  inti   pewatas  17. level satu  inti   pewatas 18. lantai lima  inti     pewatas Frase pada contoh (16), (17), dan (18) merupakan frase nominal yang memiliki hubungan fungsi antarunsur yaitu  kata anak, level, dan lantai yang berfungsi sebagai unsur inti, sedangkan kata kedua, satu, dan limaberfungsi sebagai pewatas. Makna gramatikal konstruksi ini adalah makna tingkat. 
  • FN: N + Adverbia Contoh: 19. teh saja  inti pewatas 20. gol lagi  inti pewatas 21. temannya tadi  inti           pewatas Hubungan fungsional antarunsur  pada frase nominal pada contoh (19) adalah kata teh sebagai unsur inti dan kata saja berfungsi sebagai pewatas yang berkategori adverbia.Makna gramatikalnya adalah makna pembatasan. Selanjutnya, hubungan fungsional antarunsur pada contoh (20) adalah kata gol yang berkategori nomina berfungsi sebagai unsur inti dan kata lagi yang berkategori adverbia berfungsi sebagai pewatas. Adapun makna gramatikalnya adalah perulangan. Kemudian, hubungan fungsional antarunsur pada contoh (21) kata temannya berfungsi sebagai unsur inti, namun kata tadi yang berkategori adverbia berfungsi sebagai pewatas. Makna gramatikalnya adalah makna waktu.
Demikianlah jawaban tugas akhir modul 1 profesional bahasa indonesia PPG Daljab 2019. Sobat dapat memanfaatkannya sebagai bahan pertimbangan dalam mengerjakan tugas akhir ppg pada modul 1 bahasa indonesia. Semoga bermanfaat dan tunggu jawaban tugas akhir lainnya yang akan saya update pada postingan selanjutnya.

0 Response to "Tugas Akhir Modul 1 Bahasa Indonesia PPG"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel